Selasa, 28 September 2010
ini tugas semester III
Merisik, Meminang dan Ikat Janji
Menurut adat istiadat masyarakat Melayu Deli tepak sirih diberikan sebagai tanda tuan rumah merasa bahagia dan berharap tamu yang datang membawa kabar baik, serta mempersilakan juru
bicara pihak laki-laki menyorongkan sebuah tepak pembuka kata yang telah dibuka, posisi tangkai sirih menuju juru bicara pihak perempuan sambil berkata seperti berikut ini:
Ikan kakap hendak digulai
Digulai lemak santan kelapa
Mohon maaf majelis ramai
Sambutlah salam dengan suara
Mengucapkan salam: Assalam’Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Selain bersyukur kehadirat Tuhan
Kami datang membawa pesan
Salam takzim penuh keikhlasan
Dari keluarga yang tidak jauh dari pangkalan
Sungguh tuan hamba berlapang hati
Menerima kami di rumah ahli bait yang bertuah ini
Disongsong tepak penuh berisi
Takjub pula rasa di hati
Menang setapak laksana Hang Tuah
Dengan Hang Jebat kawan berseru
Disongsong tepak dihela sembah
Demikian adat puak Melayu
Disorong tepak dihela sembah
Mohon restu sanak keluarga
Mohon disantap budiman bertuah
Sekapur sirih pembuka kata
Sambil menyorong tepak sirih dengan kedua belah tangan dan mempersilahkan juru pihak perempuan untuk memakan sirih tersebut.Makna yang terdapat di dalam pantun di atas untuk mengungkapkan fungsi tepak sirih menurut adat istiadat masyarakat Melayu Deli, selain berfungsi sebagai segel untuk mengesahkan suatu perjanjian, tepak sirih juga berfungsi sebagai alat komunikasi baik dalam kata maupun perbuatan dan tepak sirih disorongkan oleh pihak laki-laki sebagai tanda untuk menyampaikan maksud dan tujuan tertentu.
Usahalah tuan naik perahu
Usaha tuan hamba berlagak latah
Lambat laun orang pun tahu
Bukan karena kemudi patah
Patah galah dalam perdahu
Bukan kami berlagak latah
Kuasa Allah siapa yang tahu ?
Kalau ada kaca di pintu
Mari letakkan di dalam perahu
Kalau sudah tekad tuan begitu
Tanamlah, kausa Allah siapa yang tahu
Maka yang di dalam pantun di atas adalah juru bicara pihak laki-laki memperkenalkan dirinya kepada ahli bait dan mengatakan bahwa dirinya adalah seorang utusan yang diutus oleh keluarga Abdul Djalil bin Sulaiman. Untuk menyampaikan salam takzim beliau kepada ahli bait. Di samping itu ia juga membawa pesan dan amanah yang harus disampaikan menurut adat istiadat masyarakat Melayu Deli yakni dengan cara bepantun. Maksud dan amanah yang ingin disampaikan adalah untuk mempererat tali silaturahmi antara kedua belah pihak kelaurga.
Setelah juru bicara pihak laki-laki memperkenalkan diri kepada pihak perempua, selanjutnya diadakan acara merisik. Acara merisik dimulai oleh juru bicara pihak laki-laki untuk menyampaikan maksud dan tujuan kedatangannya beserta rombongan untuk menanyakan apakah dari pihak perempuan bersedia menerima pinangan dari pihak laki-laki. Maksud dan tujuan tersebut disampaikan dengan menyorongkan tepak merisik sambil berpantun. Seperti pantun berikut ini :
Kacang bukan sembarang kacang
Kacang melilit di pohon mangga
Kami datang, bukan sembarang datang
Datang bertamu, ingin bertanya
Birik-birik terbang berkawan
Terbang tinggi di atas awan
Tepak sirih kami persembahkan
Ingin merisik bunga di taman
Maksud dan tujuan yang disampaikan oleh juru bicara pihak laki-laki dijawab juru bicara pihak perempuan dengan suatu pantun nasehat suapaya pihak laki-laki tidak menyanyakan anak gadis ahli bait yang sudah dipinang orang dan tidak terjadi salah paham antara kedua belah pihak keluarga. Seperti pantun berikut :
Birik-birik terbang berlima
Terbang tinggi berkawan-kawan
Tepak perisik belum kami terima
Awas jangan terusik bunga larangan
Kemudian juru bicara pihak laki-laki menguraikan keadaan jasmani dan rohani pemuda yang ingin melamar anak gadis ahli bait. Keadaan jasmani dan rohani si pemuda disampaikan dengan cara berpantun. Seperti kita lihat dalam pantun berikut ini:
Yang pertama sekali Nabi Allah Adam
Nenek manusia kafir dan Islam
Mula asalnya di Darussalam
Di tempa Jibril tanah segenggam
Allah jadikan Adam seorang diri
Tinggi di sungai sehari-hari
Dilihatnya burung dua sejoli
Inginlah Adam hendak beristri
Tuan dan puan sekalian,
kami mempunyai seekor kumbang
si Pazly Anshari bin Abdul Djahil nama gerangan
Kumbang kami telah dewasa
Lazim disebut muda remaja
Hasrat hatinya ingin terbang ke angkasa
Kami takut kelak bala menimpa
Lalu mufakatkan kami seluruh keluarga
Maksud hendak mencari penawar bisa
Yang kami risaukan Ianya selalu terbang
Pergi pagi pulangnya petang
Tapi percayalah datuk dan hadirin sekalian
Ianya bukan si kumbang jalan
Dan bukan pula dagang terbuang
Ianya mempunyai tempat dan sarang
Tapi lain pula keadaannya sekarang
Hal-hal yang lalu banyak berkurang
Kini ianya lebih banyak berdiam di sarang
Hati kami ini susah dan bimbang
Tidurnya tak nyenyak
Makan tak kenyang
Melihat ianya demikian
Hati kami menjadi bimbang
Kemudian kami tanyakan pada kumbang kami tersebut.
Wahai kumbang mengapa Engkau susah dan selalu gelisah. Ia menjawab dengan tersipu-sipu dan berusahalah kami membawa kumbang kami tersebut untuk berobat dan melihat penyakit anak kami tersebut. Tetapi seperti kata pantun :
Bukan dokter tak handalan
Bukan dukun tak mujarab
Kepada nujan pak Belalang sudah kami tanyakan
Kiranya sekuntum bungalah yang menjadi penyebab
Kumbang pernah melintas di tanam
Terlihat mekarnya kuntum melati
Terpaut wajah jadi impian
Selalu terbawa di dalam mimpi
Tidak ubahnya :
Dentam dentum bunyi rabbana
Badan kurus jiwa merana
Berari sudah kena panah asmara
Makan tak kenyang tidur pun tak lena
Sejoli Batak Menikah Dengan Adat Melayu Deli
Suku Melayu masih dianggap penduduk mayoritas di Sumatera utara, terutama mendiami wilayah-wilayah pesisir, namun jika bertanya, siapakah yang dimaksud Melayu Deli, apa bedanya dengan puak melayu, malah muncul ada yang mengaku berasal dari suku jawa deli, orang melayu yang ditanya pun akan bingung menjawabnya.
Jika ditelusuri di dalam Kota Medan terdapat Sungai besar dinamakan Deli, Sungai Deli merupakan salah satu dari delapan sungai yang ada di Kota Medan. Mulanya, pada masa kerajaan Deli abad 18 M, sungai merupakan urat nadi perdagangan ke daerah lain. Saat ini, luas hutan di hulu Sungai Deli hanya tinggal 3.655 hektar, atau tinggal 7,59 persen dari 48.162 hektar areal DAS Deli. Suku Melayu termasuk Jawa yang mendiami seputar aliran sungai deli, di sebut melayu deli dan jawa deli.
Dalam pola hubungan budaya terutama di kota Medan terasa nuangsa egaliter, disimilisasi budaya berjalan apa adanya. Walau tidak mayoritas, penduduk terbesar Kota Medan adalah Pujakusuma, putra jawa kelahiran sumatera atau jawa deli, kemudian di susul Melayu Deli, Batak, Minang dan Tionghoa. Assimilasi budaya banyak terjadi antara Melayu deli, Batak (Mandailing), dan Jawa karena kesamaan agama, Islam. Batak menikah dengan jawa, melayu, atau minang, prosesi pernikahan menggunakan adat jawa, melayu atau minang, tetapi jika sesama Batak (mandailing) umumnya menggunakan adat melayu deli seperti kisah tetangga saya itu.
Rangkaian penyelenggaraan proses perkawinan masyarakat Melayu khususnya masyarakat Melayu Deli terdiri dari beberapa tahap, mulai dari meminang hingga pernikahan berlangsung. Sebuah perkawinan yang normal biasanya didahului dengan masa pertunangan/ikat janji antara pihak pria dengan pihak wanita yang lamanya sekitar satu tahun. Kemudian dilanjutkan dengan pernikahan atau peresmian. Dalam pelaksanaan upacara perkawinan yang direstui kedua orang tua ataupun keluarga masing-masing pihak, biasanya dilaksanakan menurut tata cara atau adat istiadat perkawianan masyarakat Melayu Deli yang belandaskan kepada kaidah-kaidah ajaran agama Islam serta pengaruh tradisional. Masyarakat Melayu Deli mempunyai tata cara perkawinan terdiri dari 27 bagian, namun prosesi ini dilaksanakan yang penting-penting saja karena mengingat waktu dan biaya yang terbatas.
Beberapa prosesi pernikahan yang sempat saya ikuti dapat disimak di bawah ini :
1. Prosesi hempang batang, adalah proses penjemputan rombongan mempelai pria oleh sesepuh adat mempelai wanita sebelum memasuki halaman rumah keluarga mempelai wanita, prosesi ini dipenuhi tutur berbalas pantun untuk mengetahui niat kedatangan mempelai pria bersama keluarga. Sebelum ini biasanya pernikahan sudah dilangsungkan beberapa hari sebelumnya dan sudah dibekali ‘kunci’ pembuka hempang berbentuk berupa kantong kecil terbuat dari kain yang di dalamnya berisi uang dari mempelai pria. Untuk membuka hempang ini keluarga mempelai pria perlu menyerahkan dua buah kunci kepada si penjaga hempang dalam bahasa berbalas pantun.
2. Prosesi hempang pintu adalah prosesi penjemputan mempelai pria memasuki rumah mempelai wanita, prosesi ini seperti prosesi hempang batang, cuma tutur berbalas pantun yang berbeda.
3. Prosesi ini setelah lolos dari dua hempang sebelumnya, prosesi ini tidak memerlukan lagi syarat ‘kunci’, hanya sebuah proses saling pengenalan wajah ke dua mempelai, apakah benar itu calon isterimu atau calon suamimu, tentu dengan bahasa berbalas pantun.
4. Prosesi Tepung Tawar adalah prosesi di mana kedua mempelai duduk dipelaminan kemudian secara bergantian mulai dari keluarga mempelai wanita sampai keluarga mempelai pria melakukan pemberkatan restu dan doa keselamatan bagi kedua mempelai dengan simbol penaburan tepung tawar, bunga, dan pemercikan air yang disucikan.
5. Prosesi makan nasi hadap-hadapan adalah prosesi akhir dari semua prosesi adat pernikahan ini, prosesi ini hanya dihadiri oleh kedua mempelai bersama keluarga ibu-ibu (wanita) dari kedua mempelai, tujuannya membangun kesepakatan rasa senasib sepenanggungan dalam satu keluarga besar ke dua mempelai, susah dan gembira apapun lauk yang bisa di makan sesuai kondisi perekonomian keluarga, keluarga harus tetap lestari dan tolong-menolong selamanya.
Segala prosesi ini kemudian ditutup dengan penyerahan mempelai pria oleh keluarga kepada keluarga mempelai wanita.
Tepung Tawar
Di rincis-rincis hai si tepung tawar
pada pengantin kami siramkan
pada pengantin di pelaminan
bagai merpati dua sekawan
pengantin duduk dua bersanding
ditaburi dengan si beras kuning
hai belum-belum datang menjeling
ramai-ramai orang keliling
hiduplah mati harus mufakat
rumah tangga tentram damai
hai jangan sering gaduh bersilap
sampailah sampai cerailah berai
pengantin duduk dua bersanding
bagai merpati dua sejoli
kami doakan selamat bahagia
rukun dan damai sehari-hari
kalaulah tuan pergi ke pekan
belikan kami setepak sirih
selamat sejahtera kami ucapkan
semoga mendapat anak yang saleh
kalaulah ada sumur diladang
bolehlah kami menumpang mandi
kalaulah ada umurku panjang
bolehlah kita berjumpa lagi.....